Teks Sejarah Kota Muntok, Bangka Barat
Kota Muntok, Bangka Barat
Kota Muntok
Sejarah Kota Muntok, Kota Muntok merupakan Kota tua yang didirikan oleh Abang Pahang, mertua Sultan Palembang Darusssalam Mahmud Badaruddin I (1720-1755) pada tahun 1722 dan menjadi ibu kota Karesidenan Bangka Belitung, sebelum dipindahkan oleh Residen J. Englenberg ke Pangkal Pinang pada tahun 1907. Di provinsi Kepulauan Bangka Belitung, warga memiliki beragam suku bangsa dan agama. Dua komunitas paling banyak ialah suku Melayu dan Tionghoa, dan ada juga suku asli lainnya yakni suku Sawang. Dua kelompok suku yang mewakili kurang lebih 90% suku yang ada, yakni suku Melayu 60% dan Tionghoa 30%. Selebihnya adalah suku pendatang dari luar pulau Bangka Belitung, seperti suku Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Minang, Aceh, Minahasa dan masih banyak suku lainnya.
Wisma Ranggam (1950 – 1951) Wisma Ranggam (2020)
Wisma Ranggam, atau yang dahulu lebih dikenal dengan sebutan Pesanggrahan Muntok, terletak di Jl. Imam Bonjol Kampung Sungai Daeng, Muntok. Pesanggrahan Muntok berubah nama menjadi Wisma Ranggam pada tahun 1976, ketika pengelolaannya dipegang oleh PT. Timah.
Pesanggrahan Muntok adalah nama sebenarnya dari Wisma Ranggam. Kata Pesanggrahan diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti tempat peristirahatan atau penginapan. Pesanggrahan Muntok dibangun tahun 1827 oleh Banka Tin Winning (BTW), Perusahaan tambang timah pada masa kolonial Belanda yang dijadikan sebagai tempat peristirahatan karyawan perusahaan timah milik Belanda saat itu. Tempat ini memiliki peran bagi sejarah perjuangan Indonesia karena ia juga menjadi tempat pengasingan dan pertemuan tokoh kemerdekaan RI.
Pada masa pasca kemerdekaan RI, Pesanggrahan ini dijadikan tempat pengasingan Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno yang diasingkan Belanda bersama KH. Agus Salim, Mr. Ali Sastroamidjojo, dan Mr. Moh. Roem . Pada tanggal 6 Februari 1948 s.d. 9 Juli 1948. Sementara, Drs. Moh. Hatta (Wakil Presiden dan Perdana Menteri), Prof. Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo, Mr. Asaat dan Komodor Suryadarma ditempatkan di Pesanggrahan Menumbing. Selain itu, Wisma Rangga ini juga merupakan tempat diserahterimanya Surat Kuasa Kembalinya Kepemerintahan RI ke Yogyakarta dari Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubowono IX pada bulan Juni 1949. Surat kuasa itu dikonsep oleh Drs. Moh. Hatta di Pesanggrahan Menumbing dan diketik oleh Prof. Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo. Penyerahan Surat Kuasa itu disaksikan oleh Drs. Moh. Hatta, Mr. Moh. Roem, dan Mr. Ali Sastroamidjojo. Catatan penting sejarah lainnya yang terjadi di tempat ini adalah perundingan UNCI, BFO dan KTN pada tanggal 22 Juni 1945.
Persanggrahan Menumbing
Pesanggrahan Menumbing merupakan rumah peristirahatan atau penginapan yang awalnya dimiliki oleh Perusahaan Timah Belanda Banka Tin Winning (BTW), dibangun sekitar tahun 1927-1930. Pada tahun 1927, J.G. Bijdendijk yang merupakan kepala BTW menyetujui pembangunan hotel ini dengan fasilitas modern yang mewah.
Hotel (bukit peristirahatan) Menumbing secara resmi dibuka pada tanggal 28 Agustus 1928 dengan fasilitas-fasilitas seperti listrik, air mengalir, telepon, serta lapangan tenis. Jalan masuk komplek ini melewati jalan aspal berliku yang cukup hanya untuk satu mobil. Jalan ini dibangun oleh pribumi dan para pekerja dari China yang dibayar oleh BTW.
Secara umum hotel Menumbing terdiri dari tiga buah bangunan yang bergaya arsitektur de stijl yang memiliki denah persegi panjang dengan dua lantai. Bagian atapnya dibuat datar berfungsi sebagai menara pandang.
Dalam rangka menjajah kembali Indonesia, Belanda meluncurkan agresi militer ke II, yang dimana Pemerintah Belanda menangkap dan mengasingkan beberapa pemimpin Bangsa Indonesia. Pada tanggal 22 Desember 1948 rombongan yang diasingkan ke Pesanggrahan Menumbing, di antaranya; Drs. Moh. Hatta, Prof. Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo, Mr. Assaat, dan Komodor Suryadarma. Kemudian Pada tanggal 31 Desember 1948 menyusul ke Pesanggrahan Menumbing yaitu Mr. Ali Sastroamidjojo dan Mr. Moh Roem. Mereka bergabung dengan rombongan Drs. Moh. Hatta di Pesanggrahan Menumbing. Pada 6 Februari 1948, Presiden Ir. Soekarno dan KH. Agus Salim menyusul diasingkan di Muntok. Pada mulanya penempatan semua pemimpin RI di Pesanggrahan Menumbing. Namun, Presiden Soekarno tidak nyaman dengan udara dingin, maka ditempatkanlah Ir. Soekarno di Pesanggrahan Muntok (Wisma Ranggam) yang ditemani dengan KH. Agus Salim, Mr. Moh Roem, dan Mr. Ali Sastroamidjojo juga ikut menyertai, yang dimana sebelumnya mereka ditempatkan di Pesanggrahan Menumbing bersama Drs. Moh. Hatta. Dengan demikian para Pemimpin Republik Indonesia yang ditempatkan di Pesanggrahan Menumbing ialah Prof. Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo, Mr. Asaat, dan Komodor Suryadarma.





Sangat informatif dan terstruktur dengan rapi dan jelas, semangat author 👍
BalasHapusTeksnya informatif, untuk struktur dan kaidah kebahasaan cukup baik. Semangat
BalasHapusTeksnya sangat menarik dan menambah wawasan mengenai kota Muntok
BalasHapuswah sangat menarik sekali, teks nya ditulis dengan sangat rapih dan juga sangat informatif! sedikit saran dari saya, untuj ukuran font mungkin bisa sedikit diperbesar agar para pembaca merasa lebih nyaman untuk membaca teks sejarajh ini. Terima kasih, semangat selalu! ✨
BalasHapusteksnya sangat menarik dan strukturnya juga sudah oke. Kerenn 👏👏
BalasHapusWah sangat informatif dan rapi sekali penulisan nya jadi lebih menarik untuk dibaca. Dan menjadi lebih tahu mengenai kota Muntok.
BalasHapuswaahhh teksnyaa bagus banget, kita juga jadi lebih tau tentang Kota Muntok struktur nya juga sudah okee banget,
BalasHapusteks nya sangat bagus dan bermanfaat bagi kita yang ingin pergi atau sekedar tau tentang Kota Muntok, strukturnya juga sudah benar sehingga teks mudah dipahami
BalasHapusWaw teks bagus dan rapih, jadi mudah untuk di bacanyaa. Teks ini sangat informatif sekali.. Saya jadi banyak mengetahui sejarah di kota Muntok. Terima kasih Author 🙏
BalasHapusMenarik
BalasHapus